Minggu, 10 Mei 2009

SKRIPSI UNPAD BROADCAST

BAB I

 

PENDAHULUAN

 

 

 

1.1 Latar Belakang

 

Pada saat ini televisi telah menjadi bagian dari kehidupan manusia. Banyak orang yang menghabiskan waktunya hanya untuk menonton televisi dibandingkan dengan menghabiskan waktu untuk mengobrol bersama keluarga. Bagi banyak orang televisi adalah teman, televisi membujuk kita untuk mengkonsumsi lebih banyak dan lebih banyak lagi informasi.

Dimasa yang akan datang, televisi akan berkembang secara pesat. Bahkan mungkin televisi dapat menjadi media yang paling dipakai oleh masyarakat. Maka dari itu menjalankan dan mengelola stasiun televisi memerlukan imajinasi. Karena para pengelola televisi haruslah terdiri dari orang-orang yang kaya akan ide sehingga televisi mempunyai tanggung jawab yang besar kepada audience. Bahkan mungkin beberapa taun kedepan televisi melebihi bisnis lainnya dalam dunia usaha.

Setiap harinya setasiun televisi menyajikan berbagai jenis program acara dengan jenis yang beragam, karma televisi tidak akan berfungsi apa-apa tanpa tersedia program untuk disiarkan. Pada dasarnya apa saja dapat disajikan di televisi selama program itu menarik dan diminati audience dan selama tidak bertentangan dengan kesusilaan, hukum, dan peraturan yang berlaku. Pengelola stasiun penyiar dituntut untuk memiliki kreativitas seluas mungkin untuk menghasilkan program yang menarik.


Dalam dunia pertelevisian, informasi sangat dibutuhkan untuk berbagai kepentingan yang sifatnya mendasar, oleh karena itu peranannya sangat luar biasa. Penyampaian informasi dapat dilakukan melalui berbagai media, baik cetak maupun elektronik. Setiap media massa memiliki keistimewaannya masing-masing. Seperti halnya radio memiliki daya tarik pada suara (kata-kata,musik,sound effect). Sehingga radio dituntut untuk dapat memancing pendengarnya melalui rangkaian kata-kata yang menarik.sedangkan televisi memliki keistimewaan yang lebih yaitu menampilkan suara dan gambar atau audio visual.

Bila kita cermmati secara jelas, pada setiap program acara yang ditayangkan disetiap stasiun televisi pasti menayangkan sebuah program yang berisikan informasi-informasi terkini yang mengupas tentang kehidupan masyarakat biasa maupun selebritis atau yang dikenal dengan hard news dan infotaiment. Program ini tidak dapat dipungkiri memang banyak menyedot perhatian di kalangan masyarakat kita pada umumnya terlebih lagi pada ibu rumah tangga ataupun para kalangan remaja yang mempunyai waktu luang yang lebih banyak. Oleh sebab itu kesempatan inipun dijadikan peluang untuk memasang iklan oleh para pengusaha guna menjual produknya pada program tersebut.

Ngopi euy merupakan program acara soft news di Bandung TV, untuk menjadikan sebuah berita yang layak untuk ditayangkan dalam program tersebut, tidak lepas atas kerja keras team work dari beberapa orang yang memegang peran pennting, seperti produser, reporter, kamerawan dan lain-lainnya guna menggapai hasil yang diinginkan bersama yakni memberi kepuasan pada audience.

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, saya tertarik untuk mengetahui lebih lanjut mengenai peran seorang kamerawan berproduksi suatu berita di Bandung TV karena itu saya mengambil judul :

TUGAS KAMERAWAN DI PROGRAM ACARA “NGOPI EUY” DI BANDUNG TV

1.2 Rumusan Masalah

 

Sehubungan dengan latar belakang pemilihan judul di atas, saya membatasi masalah yaitu :

 

1. Bagaimana seorang kamerawan bekerja ?

2. Apa saja yang perlu diketahui oleh seorang kamerawan ?

 

 

 

1.3 Maksud dan Tujuan

 

1. Mengangkat potensi diri sehingga bermanfaat kelak terjun ke dunia kerja

                dalam bidang broadcasting.

2. Menambah wawasan yang lebih luas di bidang broadcasting,

    khususnya dibidang kamerawan.

 

 

 

1.4 Tempat dan Waktu Priktek Kerja Lapangan (PKL)

 

Penulis dalam melaksanakan tugas praktek kerja lapangan dilaksanakan pada sebuah stasiun televise lokal yaitu stasiun Bandung TV yang berada di Arcamani-Bandung, dan berlangsung dari tanggal 20 Februari s/d 20 April 2009.

 

 

 

 

1.5 TEKNIK PENGUMPULAN DATA

 

Untuk memperoleh gambar secara jelas menyeluruh mengenai peran kamerawan, maka saya mencari data primer dan sekunder. Pengumpulan data-data yang dilakukan untuk penyusunan laporan ini, saya menggunakan cara sebagai berikut :

 

a.         Interview

Teknik pengumpulan data dalam penyusunan laporan dengan wawancara dengan produser, sound man, atau dengan personel yang terlibat langsung.

 

b.         Observasi Partisipan

Teknik pengumpulan data dalam penyusunan laporan dengan

memperhatikan dan ikut serta terjun langsung ke lapangan dalam proses

produksi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

 

PROFIL BANDUNG TV

 

 

 

2.1           Maksud dan Tujuan

 

Menyelenggarakan penyiaran yang berlandaskan budaya komunikasi warga Bandung khususnya dan Jawa Barat pada umumnya yang menempatkan cara berkomunikasi sama pentingnya dengan isi komunikasi.

Menegakan ajen inajen budaya Sunda yang adiluhung sebagai landasan peningkatan harkat dan martabat warga Bandung dan Jawa Barat secara keseluruhan dalam segala lapangan kehidupan.

Menyediakan pilihan informasi, hiburan, dan pendidikan yang menjadi motivasi bagi khalayak di Kota Bandung dan Jawa Barat pada umumnya untuk memberdayakan diri dan bersama-sama dengan anggota masyarakat lainnya membangun bangsa dan Negara Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

2.2       Visi, Misi dan Logo

 

Visi

Sebagai media pencerahan dan pemberdayaan masyarakat Bandung dan Jawa Barat di segala aspek kehidupan dengan fondasi budaya.

 

Misi

Menyediakan pilihan informasi, pendidikan, dan hiburan bagi penguatan “ajen inajen” budaya masyarakat Bandung dan Jawa Barat melalui sajian bermakna bagi pematangan, aktualisasi, dan inspirasi bagi penciptaan akses terhadap perkembangan manusia seutuhnya.

 

Logo

Bandung TV hadir dengan lambing bunga Wijaya Kusuma, sebagai suatu lambing kejayaan tradisi seni budaya.

 

 


 

 

2.3       Area Jangkauan

 

Pada tahap pertama Bandung TV mengudara dengan menggunakan saluran UHF pada frekuensi 38 UHF yang ditunjang oleh satu buah pemancar berkekuatan 5 KW. Dengan dukungan stasiun pemancar tersebut, siaran Bandung TV diharapakan pada tahap awal sudah dapat menjangkau wilayah Kota Bandung, dan sebagian wilayah Kabupaten Bandung, dengan batas jangkauan sebagai berikut :

 

Sebelah Utara              :           Cisarua

Sebelah Selatan           :           Pangalengan, Soreang, Ciwidey

Sebelah Timur             :           Cileunyi

Sebelah Barat              :           Padalarang

 

 

 

2.4        Gedung Perkantoran

 

Gedung perkantoran terdiri atas :

 

·      Studio Penyiaran

Beralamat di Jalan Pacuan Kuda, Taman Golf Arcamanik Endah, kelurahan Sukamiskin, kecamatan Arcamanik, Bandung, Jawa Barat.

 

·      Kantor Penyiaran

Beralamat di Jalan Pacuan Kuda, Taman Golf Arcamanik Endah, kelurahan Sukamiskin, kecamatan Arcamanik, Bandung, Jawa Barat.

 

 

 

2.5       Program Unggulan

 

News

·      Seputar Bandung Raya

Program acara berita local yang dikemas secara akurat dan merakyat dari hasil liputan peristiwa dan kejadian di Bandung.

·      Tangara Pasundan

Program acra berita local berbahasa Sunda yang dikemas secara akurat dan merakyat dari hasil liputan peristiwa dan kejadian di Bandung.

 

Budaya

·      Midang

Program acara yang menyajikan seputar kesenian tari-tarian khas Jawa Barat.

·      Wartis

Program acara yang menyajikan hiburan tradisional rakyat yang menceritakan tentang kisah si Cepot dan Kawan-kawan

 

Pendidikan

·      Asah asih asuh

Program acara yang menyajikan berbagai infomasi mengenai pendidikan dan aktivitas di suatu lembaga pendidikan.

 

 

 

 

 

Music dan Hiburan

·      Piloks

Program acara musik dimana pemirsa dapat memilih secara langsung lagu yang diinginkan lewat telepon dan juga dapat saling berkirim salam.

·      Klip Parahyangan

Program acara musik yang menayangkan klip-klip musik berbahasa Sunda yang dibawakan oleh para artis Bandung.

·      Mandalawangi

Program acara yang menyajikan berbagai informasi objek pariwisata dan tempat-tempat menarik untuk berwisata di sekitar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

 

PELAKSANAAN DAN TUGAS KAMERAWAN

 

 

 

3.1 Bagaimana Seorang Kamerawan Berita Bekerja ?

 

Tidak seperti pada pembuatan acara televisi lainnya, untuk liputan berita ke lapangan tidak perlu kru dengan jumlah yang banyak. Seorang kamerawan hanya ditemani seorang reporter saja. Produser berita memberikan tugas pada tim liputan berita untuk meliput berita yang diinginkan. Kamerawan dan reporter menuju lokasi kejadian.

Kamerawan meliput momen yang terjadi, kalau bisa memenuhi kaidah 5 W + 1 H (who, what, when, where, why, + how). Atas permintaan reporter biasanya kameramen juga mengambil beberapa gambar yang dipandang perlu. Tidak seperti acara lain dimana pengambilan gambar/shooting dilakukan sesuai naskah dan pengarahan sutradara, pada acara berita seorang kameramen harus memiliki inisiatif tinggi dalam setiap pengambilan gambar. Kalau bisa gambar-gambar yang terekam harus edit on camera, hal ini untuk memudahkan dalam pengerjaan paska produksi. Untuk liputan live atau langsung, seminimal mungkin tidak ada kesalahan dalam pengambilan gambar, tentu saja karena dalam siaran langsung tidak bisa retake/diulang.

Bekerjasama dengan reporter, seorang kamerawan harus jeli agar berita yang diliput memiliki nilai lebih. Koordinasi di lapangan juga harus terjaga apalagi terkadang di lapangan sering terjadi rebutan dalam pengambilan gambar. Membuat sudut pandang atau angle yang baik adalah hal utama juga kestabilan dalam handheld kamera.

Beradaptasi dengan situasi dan kondisi. Sepertinya hal ini sepele, namun hemat saya hal ini sangat penting. Terkadang banyak situasi yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Jika kita tidak bisa berdapatasi dengan situasi tersebut bisa berakibat buruk. Pada liputan perang sebagai contoh, kalau kita tidak pintar untuk memilih lokasi maka tidak menutup kemungkinan bisa terjadi hal yang tidak diinginkan.

Bekerja dengan cepat, akurat, dan terpercaya. Seorang kamerawan wajib bekerja cepat. Kenapa ? Karena nilai berita harus selalu hangat. Jika tidak maka berita liputan yang kita dapatkan jadi basi, didahului oleh liputan lainnya. Bagaimana kamerawan bisa bekerja cepat ? Walaupun dalan liputan berita biasanya tidak banyak persiapan yang dibutuhkan, tapi seorang kameramen berita harus sudah memiliki konsep liputan yang akan dilakukan atau nilai berita apa yang ingin disampaikan.

 

 

 

3.2 Memahami Peralatan dan Istilah-Istilahnya.

 

Memahami peralatan dan Paham dengan peralatan, terutama kamera, adalah poin yang penting sekali. Banyak jenis kamera dengan format beraneka ragam memiliki karakteristik berbeda. Seorang kameramen harus paham betul fungsi semua kontrol di kamera. Tentu tidak lucu kalau kameramen kehilangan momen berita penting gara-gara kameramen tersebut susah untuk memfokus kamera atau membuka/menutup iris.

 

 

 

3.2.1 Istilah-Istilah Pada Kamera

 

Bahasa kamera merupakan bahasa standar broadcast internasional. Jadi bahasa ini umum digunakan di stasiun televisi manapun. Seorang kamerawan wajib mengetahiu istilah-istilah pada kamera. Di antaranya yaitu :

 

·      ECU : Extreme Close-Up (shot yang detail)

·      VCU : Very Close-Up (shot muka, dari dahi ke dagu)

·      BCU : Big Close-Up (seluruh kepala)

·      CU : Close Up (dari kepala sampai dada)

·      MCU : Medium Close-Up (dari kepala sampaiperut)

·      MS : Medium Shot (seluruh badan sebelum kaki)

·      Knee : Knee Shoot (dari kepala hingga lutut)

·      MLS : Medium Long Shot (keseluruhan badan)

·      LS : Long Shot (keseluruhan, ¾ sampai 1/3 tinggi layar)

·      ELS : Extra Long Shot (XLS), long shot yang lebih ekstrim

·      Zoom In : Obyek seolah-olah mendekat ke kamera

·      Zoom Out : Obyek seolah-olah menjauh dari kamera

·      Pan Up : Kamera bergerak (mendongak) ke atas

·      Pan Down : Kamera bergerak ke bawah

·      Tilt Up : sama dengan pan up

·      Tilt Down : sama dengan pan down

·      Pan Kiri : Kamera bergeser ke kiri

·      Pan Kanan : Kamera bergeser ke kanan

·      Track In : Kamera track (bergerak) mendekat ke obyek

·      Track Out : Kamera track (bergerak) menjauh dari obyek

·      Dolly In : sama track in

·      Dolly Out : sama track out

 

Untuk jenis shot yang sering digunakan adalah :

 

·      Long Shot atau Full Shot, keseluruhan

·      Wide Shot atau Cover Shot, keseluruhan obyek dalam adegan

·      Close Shot atau Tight Shot, kelihatan detail

·      Shooting Groups of people, bisa single shot, two shot, three shot dst sebagai gambaran keseluruhan.

 

 

 

3.2.2 Jenis-Jenis Kamera

 

            Banyak ragam dan jenis kamera, serta Fungsi penggunaannyapun

berbeda-beda, dibawah ini saya akan menjelaskan beberapa jenis kamera yang sering digunakan :

 

 

 

 

1.     Kamera Studio

 

Kamera jenis ini selain memiliki kemampuan tersendiri juga ada beberapa adjustment yang dikontrol, alat tersebut bernama camera control unit atau lebih dikenal dengan CCU. Seperti sistem kamera jenis lainnya, kamera studio bertumpu pada pelurusan sirkuit akan tetapi tehnik digital sekarang memiliki pre-set pada semua penyetelan sirkuit terutama pada kamera studio modern.

Karena ukuran kamera studio sangat berat maka kamera studio biasanya terpasang pada dolly agar bisa berpindah atau digeser secara halus.

 

2.     Kamera Broadcast Portable

 

Kamera Broadcast Portable Kamera jenis ini lebih ramping, cocok untuk digunakan di studio maupun di lapangan. Dengan lensa zoom dan viewfinder yang lebih besar maka kamera portabel juga digunakan di studio produksi. Dan karena lebih ramping dibandingkan dengan kamera studio, unit kamera ini bisa bekerja di lapangan secara langsung. Kamera portabel memiliki semua sirkuit yang dibutuhkan serta memiliki fungsi-fungsi yang otomatis. Kamera jenis ini juga memiliki video tape recorder sebagai bagian dari body kamera.

 

 

 

 

3.     Kamera Ringan Atau Lightweight Camera

 

Kamera Ringan atau Lightweight Camera Untuk kebutuhan di lapangan produsen juga membuat jenis kamera yang ringan. Hampir sama dengan jenis kamera portabel namun jenis kamera ini lebih kecil lagi. Bisa digunakan secara hand-held atau memakai tripod. Kamera Kecil Kamera ini lebih populer dengan nama handycam. Jenisnya kecil, dibuat karena untuk pertimbangan harga yang murah. Digunakan untuk home use, handycam banyak dijumpai di pasaran.

 

4.     Sinematrography Elektronik

 

Sinematrography Elektronik Jenis kamera ini adalah jenis kamera televisi yang didisain dengan karakter yang menyerupai kamera film. Menggunakan tape yang selanjutnya ditransfer ke dalam bentuk seluloid.

 

 

 

3.2.3 Bagian-Bagian Pada Kamera

 

            Seorang kamerawan tentunya wajib mengetahui bagian-bagian yang ada pada kameranya, tidak hanya mengetahui bagian bagian tersebut, tetapi seorang kamerawan juga wajib mengetahui fungsi pada masing-masing bagian.

Lensa kamera merupakan "mata" yang berfugsi menerima gambar secara natural. Lensa kamera memiliki penyesuaian area, lensa jenis ini disebut lensa zoom., tapi sistim lensa yang fix yang paling banyak digunakan. Beam Splitter (pembagi cahaya) Di dalam sistim televisi warna, warna gambar natural sebenanya di bagi menjadi tiga versi identik yakni cahaya berwarna merah, hijau dan biru yang direflesikan dari sebuah subyek.

Tabung Kamera, solid-state image sensors (CCD) Secara sederhana, urutan teratas kamera televisi memiliki 3 tabung yang terbagi atas componen merah, hijau, dan biru pada gambar berwarna. Informasi gambar secara detail dan brightness (luminance) dipancarkan dari gabungan gelombang warna yang diterima. Kini kamera video memiliki CCD yang canggih, sesuai dengan jenis kamera yang dikeluarkan.

Letak viewfinder lazimnya berada di paling atas kamera atau berada di samping kiri kamera. Viewfinder memiliki layar monochrome atau hitam putih, namun kini ada juga yang telah memiliki layar warna. Mounting- Mounting kamera adalah bagian paling bawah dari kamera yang berfungsi untuk menyandarkan kamera pada tripod, agar kamera bisa digerakan sesuai keinginan dari kameramen.

 

1.     Kontrol kamera

 

Semua jenis kamera memiliki tiga urutan control, Untuk penyesuaian selama pengambilan gambar. Penyesuaian kembali kondisi ketika perubahan diinginkan. Atau ketika kamera "didiamkan sendirian". Pada kamera studio sebagian kontrol distel di CCU yang terpisah dari kamera. Seorang CCU Man akan mengontrol terang gelap serta keseimbangan warna dan lainnya agar gambar yang dihasilkan bisa maksimal. Jadi seorang kameramen akan konsentrasi pada framing saja. Pertanyaanya, bagaimana kalau kameramen menggunakan kamera portabel atau kamera kombo? Siapa yang meng-adjust setting kamera? Jadi seorang kameramen harus memiliki kemampuan untuk meng-adjust atau menyetel setting kamera.

 

2.     Lensa Kamera

 

Lensa kamera adalah mata kamera atau jantung dari kamera itu sendiri, seorang kamerawan harus konsen benar. Sistim pada lensa kamera secara normal memiliki tiga penyetelan atau adjustment yang bisa distel secara manual atau semi otomatis.

 

3.     Fokus

 

Fokus Untuk membuat gambar menjadi fokus, setel atau adjust lensa dengan memutar ring fokus. Hal ini juga bisa disesuaikan dengan merubah control zoom. Fokus juga akan jauh lebih mudah jika obyek yang kita shooting memiliki cahaya yang cukup.

 

4.     Kontrol Zoom

 

Kontrol Zoom Control berfungsi untuk mendekatkan atau menjauhkan obyek. Pada tombol ini terdapat kode W (wide angle) dan T (Telephoto). Jika tombol zoom ditekan di kode W maka gambar atau obyek kelihatan mendekat (zoom in), jika control zoom dg kode T yg ditekan maka obyek akan menjauh (zoom out).

 

5.     Exposure Dan Iris

 

Exposure dan Iris Orang sering beranggapan kalau gambar yang bagus adalah gambar yang terang. Pada kenyataanya hal ini tidak selalu benar. Yang benar adalah jika obyek memiliki tones yang benar. Dalam kamera standar memiliki auto-iris, kalau fasilitas ini diaktifkan, maka secara otomatis lensa akan menyetelnya, rongga lensa terbuka. Fasilitas auto-iris bermanfaat ketika seorang kameramen harus berpindah-pindah tempat dimana pencahayaan belum tentu sama. Sayangnya, jika fasilitas ini dipakai kadangkala obyek menjadi tidak konstan. Jadi baiknya adalah fasilitas ini digunakan pertama kali, selanjutnya gunakan manual iris. Jika pindah lokasi atau pencahayaan berbeda lakukan dengan auto iris kembali, estela itu kembali ke manual.

 

 

 

3.2.4 Jenis-Jenis Mounting

 

·      Monopod

·      Tripod Kamera

·      Tripod Collapsible

·      Tripod Pneumatic

·      Tripod Rolling atau Tripod Dolly

·      Pedestal Kamera

·      Pedestal Field

·      Pedestal Studio

·      Crane Kamera

·      Crane-arm

·      Motorized dolly

·      Large crane

·      Mounting Khusus

·      Low shot (Low tripod, high hat, camera sled)

·      High Shot (Camera clamp, Hydraulic platforms, SkyCam)

 

 

 

3.2.5  Perlengkapan Yang Harus Disiapkan Sebelum Shooting

 

Agar tidak ada perlengkapan shooting yang ketinggalan, biasanya dibuat Pre-rehearseal checkout list. Diantaranya :

·      Preliminaries              :           kamera dicek apakah hidup ? atau perlu warm

up terlebih dahulu.

·      Kabel Kamera             :           Yakinkan semua kabel bisa berfungsi baik.

·      Mounting

·      Viewfinder

·      Cable Guards              :           Berfungsi untuk mengamankan kamera.

·      Lens cap                      :           Penutup lensa, agar lensa tidak kena debu dan

sebagainya.

·      Focus                          :           Cek apakah fokusnya baik

·      Zoom                           :           Cek apakah zoom bisa berjalan normal

·      Batere Kamera

·      Kaset

·      Lampu

·      Microphone

 

 

 

 

3.2.6 Pedoman Bagi Kamerawan

 

Seorang kamerawan yang professional dituntut memiliki kreatifitas, aktif serta semangat kerja yang tinggi, selain itu juga kamerawan memperhatikan pedoman yang dijadikan sebagai acuan bagi seorang kamerawan.

 

A.   Pedoman Kamerawan :

 

1.     Biasakan dan selalu menggunakan tripot/ monopot setiap kali mengambil gambar agar mendapatkan gambar yang stabil dan tidak goyang.

2.     Selalu merekam suara-suara natural atau suara atmosfer.

3.     Selalu menanyakan kepada reporter mengenai berita apa yang akan ditampilkan.

4.     Tahanlah setiap shoot sekurangnya 10 detik.

5.     Batasi pergerakan kamera : pan, zoom, tilt, dan lain-lain. Gerakan-gerakan dilakukan karena suatu alasan. Jagalah agar gerakan-gerakan tersebut berlangsung singkat. Mulai dan akhir shoot dengan shoot statis.

6.     Shoot harus di frame (ditampilkan pada layar) dengan baik, jangan, mengganti framing (komposisi) untuk selama wawancara serta jagalah komposisi pada subyek. Pastikan sebuah pertanyaan serta direkam selama wawancara.

7.     Ambilah gambar wawancara jauh dari dinding dan latar belakang yang datar.pikirkan lah latar belakang yang baik untuk wawancara dan stand up.

8.     Narasumber ketika wawancara harus melihat kearah reporter, dan reporter harus berdiri dekat dengan kamera.

9.     Dalam melaksanakan wawancara, mintalah presenter atau reporter untuk mulai bicara setelah diberikan “cue”, yaitu tanda untuk mulai bicara. Cue diberikan setelah lima detik hingga enam detik setelah kamera merekam gambar. Wawancara harus dimulai dengan menyebutkan nama dan jabatan narasumber terlebih dahulu untuk manandai bagian wawancara dalam kaset.

10.  Mintalah kepada reporter untuk tidak langsung mengajukan pertanyaan kepada narasumber setelah jawaban sebelumnya selesai diberikan. Sebaliknya, mintalah narasumber untuk tidak buru-buru memberikan jawaban setelah reporter mengajukan pertanyaan. Berikan jeda beberapa detik sebelum reporter dan narasumber berbicara.

11.  Rekamlah beberapa gambar penunjang yang dibutuhkan.

12.  Dalam suatu wawancara panjang sisipkan gambar-gambar penyela agar wawancara tidak tidak membosankan atau bias juga sebagai stok shoot.

13.  Wawancara di lokasi terbuka terkadang mendapat gangguan dari cuaca seperti angin. Untuk mengatasi hal itu, reporter harus memiliki semacam mantel bulu yang menutupi permukaan microphone.

14.  Jika wawancara dilakukan di depan sebuah obyek atau bangunan yang menjadi pokok pembicaraan dalam suatu wawancara, maka perlu di pastikan bahwa cut away obyek atau bangunan itu harus betul-betul berbeda dalam ukuran dan angle-nya untuk menghindari jump cut.

15.  Jika wawancara dilakukan lebih dari satu narasumber, maka garis mata atau eye line tidak boleh sama antara satu narasumber dengan narasumber yang lain, untuk memberikan kesan telah terjadi dialog diantara narasumber itu.

16.  Jika kamerawan hendak merekam suatu kegiatan, jangan mengambil gambar hanya dalam ukuran wide shoot, tetapi ambil gambar kegiatan itu dengan sequent (rangkaian). Pikirkan tentang action (suatu kegiatan) dan gerakan dalam layar.

17.  Pikirkan tentang apa yang disukai oleh penonton dan filmkan suatu peristiwa dari sudut pandang mereka.

18.  Biarkan orang-orang berjalan memasuki dan keluar dari layer ketika wawancawa berlangsung.

19.  Berikan editor dengan titik-titik pemotongan (cutting points)

20.  Jangan biarkan orang-orang bicara di seputar kamera.

21.  Usahakan untuk selalu mendapatkan feedback (umpan balik) dari editor terhadap materi gambar yang telah dikerjakan.

 

 

 

3.2.7 Deskripsi Program Ngopi Euy

 

Dalam kesempatan ini penulis hendak membahas salah satu program acara yang ada di Bandung TV nama Program acaranya yaitu Ngopi Euy. Program ini ditayangkan setiap hari sabtu. Program ini mengupas tentang informasi-informasi yang menyangkut tentang hal-hal yang unik, aneh, langka, kreatif, lucu, dan juga kuliner yang unik-unik. Program ini berdurasi 60 menit terdiri dari 4 hingga 5 segment, dengan disiarkan langsung di studio Bandung TV menggunakan single camera. Target audience nya adalah semua khalayak umum. Inilah yang menjadi ciri khas program tersebut.

 

 

 

 

3.2.7.1 Desain Program

 

Nama Program            : Ngopi euy

Durasi                         : 60 Menit

Frekuensi Siara           : 1 Kali seminggu

Hari Siaran                  : Sabtu

Jam Siaran                   : 08.00 – 09.00 WIB

Format Produksi         : Single Camera – Live

Target Audience          : Semua Umur

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

 

PENUTUP

 

 

 

4.1 Simpulan

 

Tugas kamerawan dalam dunia broadcasting khususnya stasiun televisi memang andil yang sangat vital, sebab stasiun televisi merupakan media elektronik yang berbentuk audio visual sehingga tidak ada gambar dan suara sudah berarti tidak ada berita. Ada beberapa kesimpulan yang saya ambil dari laporan saya ini.

Diantaranya :

 

·      Seorang kamerawan harus memiliki inisiatif tinggi dalam setiap pengambilan gambar.

·      Diusahakan gambar-gambar yang terekam harus edit on camera.

·      Bekerjasama dengan reporter.

·      Beradaptasi dengan situasi dan kondisi.

·      Bekerja dengan cepat, akurat, dan terpercaya.

 

Seorang kamerawan juga perlu mengetahui seluk beluk dari kamera, mulai dari bagian-bagian kamera sampai dengan istilah-istilah kamera. Gunanya adalah untuk memperlancar kamerawan pada saat bekerja.

 

 

 

4.2 Saran

 

Stasiun Bandung TV merupakan stasiun yang baru, sehingga bila kita lihat program acaranya yang masih sedikit, serta terkadang sering terjadi kesalahan-kesalahan yang disengaja dan tidak disengaja didalam penyajiannya. . Para kamerawannya pun perlu seikit lebih belajar lagi mengenai seluk beluk kamera. sehingga dengan begitu stasiun Bandung TV dapat unjuk gigi walaupun merupakan stasiun lokal di Bandung.

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar